Minggu, 27 Januari 2013

Metode Penelitian Kualitatif


METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN KUALITATIF
By: Aminatul Zahroh
Program Sarjana (S1) 5A - 3211073037

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Penelitian pada hakekatnya adalah suatu kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang suatu masalah. Pengetahuan yang diperoleh dari penelitian terdiri dari fakta, konsep, generalisasi dan teori yang memungkinkan manusia dapat memahami fenomena dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Masalah penelitian dapat timbul karena adanya kesulitan yang mengganggu kehidupan manusia atau semata-mata karena dorongan ingin tahu sebagai sifat naluri manusia.
Baik untuk masalah penelitian yang timbul karena adanya kesulitan yang dihadapi manusia maupun karena ingin tahu, diperlukan jawaban yang dapat diandalkan berdasarkan pengetahuan yang benar. Kebenaran yang dipegang teguh dalam penelitian adalah kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang bersifat relatif atau nisbi, bukan kebenaran yang sempurna dan bersifat mutlak. Penelitian berusaha memperoleh pengetahuan yang memiliki kebenaran ilmiah yang lebih sempurna dari pengetahuan sebelumnya, yang kesalahannya lebih kecil daripada pengetahuan yang telah terkumpul sebelumnya.
Kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar sebagai penyempurnaan pengetahuan sebelumnya telah dilaksanakan oleh para peneliti dan ilmuwan dalam ilmunya masing-masing. Secara akumulatif, pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori yang telah dihasilkan dari berbagai penelitian itu merupakan sumbangan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang. Di samping itu, Tanzeh mengemukakan, "hasil penelitian juga memungkinkan menjadi metode yang lebih baik dalam memecahkan, menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah praktis yang dihadapi manusia dalam hidupnya."[1]
Pada dasarnya sebuah penelitiasn sosial dilakukan untuk memahami berbagai hal berkaitan dengan dinamika kehidupan sosial masyarakat. Namun demikian, berbagai pengalaman melakukan serangkaian prosedur penelitian menunjukkan bahwa ternyata metode penelitian kuantitatif tidak dapat sepenuhnya mengungkap kehidupan sosial secara rinci dan mendalam. Metode penelitian kuantitatif ternyata tidak dapat mengungkap dinamika sosial secara utuh.[2] Banyak hal dari yang diteliti belum dapat dijelaskan atau bahkan memperoleh hasil yang membingungkan karena tidak ditemui adanya suatu kecenderungan tertentu. Dalam situasi seperti ini, maka metode penelitian kualitatif dapat dikatakan lebih memadai untuk diterapkan.
Dalam dunia manajemen, terutama manajemen pendidikan Islam, penelitian kualitatif menjadi salah satu dasar untuk menggali teori. Maka merupakan sebuah kewajiban bagi mahasiswa pasca sarjana konsentrasi manajemen pendidikan Islam untuk mengetahui apa sebenarnya dan bagaimana operasionalnya penelitian kualitatif tersebut. Tanpa mengetahui dan memahami penelitian kualitatif, maka seorang mahasiswa akan kesulitan dalam melakukan penelitian yang orientasinya mengembangkan atau membangun teori. Karena seseorang yang tidak mengetahui metodologi atau metode maka orang tersebut ibarat akan berperang namun tidak mempunyai senjata dan tidak mengerti cara menggunakannya.
 
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang penulis kemukakan di atas, maka rumusan masalah yang penulis kemukakan adalah:
1.      Bagaimana hakekat penelitian kualitatif?
2.      Bagaimana fungsi penelitian kualitatif?
3.      Bagaimana karakteristik dan landasan teoritis penelitian kualitatif?
4.      Bagaimana paradigma penelitian kualitatif?
5.      Bagaimana fokus penelitian dalam penelitian kualitatif?
6.      Bagaimana model penelitian kualitatif?
7.      Bagaimana tahap-tahap penelitian kualitatif?

C.     Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui hakekat penelitian kualitatif.
2.      Untuk mengetahui fungsi penelitian kualitatif.
3.      Untuk mengetahui karakteristik dan landasan teoritis penelitian kualitatif.
4.      Untuk mengetahui paradigma penelitian kualitatif.
5.      Untuk mengetahui fokus penelitian dalam penelitian kualitatif.
6.      Untuk mengetahui model penelitian kualitatif.
7.      Untuk mengetahui tahap-tahap penelitian kualitatif.
 
BAB II
PEMBAHASAN

A.     Hakekat Penelitian Kualitatif
Istilah kualitatif menurut Kirk dan Miller sebagaimana yang dikutip oleh Moleong, pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan kuantitatif.[3] Pengamatan kuantitatif yang selalu melibatkan pengukuran pada suatu ciri tertentu. Maka sebenarnya penelitian kuantitatif mencakup setiap jenis penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata, dan perhitungan statistik lainnya.
Ada beberapa istilah yang digunakan untuk penelitian kualitatif, yaitu poenelitian atau inkuiri naturalistik atau alamiah, etnografi, interaksionis simbolik, perspektif kedalam, etnomedologi, the Chicago School, fenomenologis, studi kasus, interpretatif, ekologis, dan deskriptif.[4] Namun istilah tersebut masing-masing hanyalah bentuk istilah lain dari penelitian kualitatif.
Terdapat beberapa definisi yang berbeda-beda namun mempunyai inti yang sama mengenai penelitian kualitatif, antara lain seperti yang dikemukakan Bogdan dan Taylor, metodologi penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.[5] Jadi menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh. Dalam penelitian ini, tidak boleh mengisolasikan individu ke dalam variabel atau hipotesis.
Sementara itu Miles & Huberman, sebagaimana dikutip Tanzeh dan Suyitno, mengemukakan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertitik tolak dari realitas dengan asumsi pokok bahwa tingkah laku manusia mempunyai makna bagi pelakunya dalam konteks tertentu.[6] Sejalan dengan definisi tersebut, Kirk dan Miller, sebagaimana dikutip Moleong, mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif  adalah tradisi tertentu dalam iulmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya.[7]
Sementara itu Denzin dan Lincoln, sebagaimana yang dikutip Moleong, menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.[8] Dari pengertian ini, ternyata para penulis masih tertarik pada persoalan latar alamiah dengan maksud agar hasilnya dapat digunakan untuk menafsirkan fenomena.
Penelitian kualitatif dari sisi definisi lainnya dikemukakan bahwa hal itu merupkan penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku individu atau sekelompok.[9] Ternyata definisi ini hanya mempersoalkan satu metode pengumpulan data yakni wawancara terbuka.
Cukup banyak definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahli penelitian kualitatif. Namun semua definisi tersebut memandang dari perspektif tertentu. Maka penulis akan mencoba mensisntesiskan dari berbagai definisi di atas. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, motivasi dan lainnya, secara holistik atau utuh dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode penggalian data yang alamiah.

B.     Fungsi Penelitian Kualitatif
Setiap kegiatan yang sengaja dilakukan tentu mempunyai fungsi atau manfaat tertentu. Begitu pula dengan penelitian kualitatif, tentu juga mempunyai manfaat atau fungsi. Berikut ini adalah fungsi dan pemanfaatan penelitian kualitatif yang dikemukakan Moleong:
1.      Pada penelitian awal dimana subjek penelitian tidak didefinisikan secara baik dan kurang dipahami.
2.      Pada upaya pemahaman penelitian perilaku dan penelitian motivasional
3.      Untuk penelitian konsultatif
4.      Memahami isu-isu rumit sesuatu proses
5.      Memahami isu-isu rinci  tentang situasi dan kenyataan yang dihadapi seseorang.
6.      Untuk memahami isu-isu yang sensitif
7.      Untuk keperluan evaluasi.
8.      Untuk meneliti latar belakang fenomena yang tidak dapat diteliti melalui penelitian kuantitatif.
9.      Digunakan untuk meneliti tentang hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang subjek penelitian.
10.  Digunakan untuk lebih dapat memahami setiap fenomena yang sampai sekarang belum banyak diketahui.
11.  Digunakan untuk menemukan perspektif baru tentang hal-hal yang sudah banyak diketahui.
12.  Digunakan oleh peneliti bermaksud meneliti sesuatu secara mendalam.
13.  Dimanfaatkan oleh peneliti yang berminat untuk menelaah suatu latar belakang misalnya tentang motivasi, peranan, nilai, sikap, dan persepsi.
14.  Digunakan oleh peneliti yang berkeinginan untuk menggunakan hal-hal yang belum banyak diketahui ilmu pengetahuan.
15.  Dimanfaatkan peneliti yang ingin meneliti sesuatu dari prosesnya.[10]
Sementara itu, Nana Sudjana mengemukakan bahwa metode kualitatif sering digunakan untuk menghasilkan grounded theory yakni teori yang timbul dari data, bukan dari hipotesis-hipotesis seperti dalam metode kuantitatif.[11] Fungsi-fungsi tersebut merupakan fungsi dilakukannya penelitian kualitatif atau dapat dikatakan pemanfaatan metode penelitian kualitatif.

C.     Karakteristik dan Landasan Teoritis Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif mempunyai sejumlah karakteristik yang membedakan dengan penelitian lainnya. Bogdan & Biklen mengajukan lima buah ciri,[12] sedangkan Lincoln dan Guba mengupas sepuluh ciri. Uraian di bawah ini yang merupakan pengkajian dan sintesis dari berbagai buku yang penulis temukan.
1.      Latar alamiah; Penelitian kualitatif dilakukan dengan latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (entity). Hal ini dilakukan karena ontologi alamiah menghendaki kenyataan keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya.
2.      Manusia sebagai alat (Instrumen); Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. Hal itu dilakukan karena, jika memanfaatkan alat yang bukan manusia dan mempersiapkan dirinya terlebih dahulu sebagai yang lazim digunakan dalam penelitian klasik, maka sangat tidak mungkin untuk mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan yang ada di lapangan.
3.      Metode kualitatif; Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif, yaitu pengamatan, wawancara atau penelahaan dokumen.
4.      Analisis data secara induktif; Penelitian kualitatif menggunakan analisis data secara induktif.
5.      Teori dari dasar (Grounded Theory); Penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan penyusunan substantif yang berasal dari data.
6.      Deskriptif; Data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Hal disebabkan adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti.
7.      Lebih mementingkan proses dari pada hasil; Penelitian kualitatif lebih mementingkan proses dari pada hasil. Hal ini disebabkan oleh hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses.
8.      Adanya batas yang ditentukan oleh fokus; Penelitian kualitatif menghendaki ditetapkan adanya batas dalam penelitian atas dasar fokus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian.
9.      Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data; Penelitian kualitatif mendefinisikan validitas, reliabilitas, dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan yang lazim digunakan dalam penelitian klasik.
10.  Desain bersifat sementara; Penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan di lapangan. Jadi tidak menggunakan desain yang disusun secara ketat dan kaku sehingga tidak dapat diubah lagi.[13]
11.  Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama; Penelitian kualitatif lebih menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sebagai sumber data.
 Demikian tadi berbagai ciri-ciri atau karakteristik yang penulis rangkum dari berbagai buku yang penulis temukan. Penulis merasa ciri-ciri yang penulis kemukakan sudah mampu mewakili pendeskripsian penelitian kualitatif sehingga berbeda dengan penelitian yang lainnya.
Pada dasarnya landasan teoritis dari penelitian kualitatif itu bertumpu secara mendasar pada fenomenologi. Karena itu, fenomenologi dijadikan sebagai dasar teoritis, sedangkan yang lainnya dijadikan sebagai dasar tambahan yang melatarbelakangi secara teoritis penelitian kualitatif. Penulis akan mencoba menjelaskan sedikit mengenai landasan teoritis penelitian kualitatif, baik yang mendasar maupun yang tambahan.
1.      Fenomenologi; Diartikan sebagai pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal. Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia.[14]
2.      Interaksi simbolik; Pendekatan ini berasumsi bahwa pengalaman manusia ditengahi oleh penafsiran; objek, orang, situasi, dan peristiwa yang tidak memiliki pengertiannya sendiri, sebaliknya pengertian itu diberikan untuk mereka.[15] Dalam interaksi sosial, penafsiran merupakan hal yang esensial yang mempengaruhi definisi sosial.[16]
3.      Kebudayaan; banyak antropolog yang menggunakan pendekatan fenomenologi dalam studi mereka tentang pendidikan. Kerangka studi antropologisnya adalah konsep kebudayaan.
4.      Etnometodologi; Ini bukanlah metode yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, melainkan menunjuk pada mata pelajaran yang akan diteliti. Etnometodologi adalah studi tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupannya sehari-hari – metodenya untuk mencapai kehidupan sehari-hari.[17] Ini menjadi landasan teoritis penelitian kualitatif, karena sejumlah orang pendidikan  telah dipengaruhi pendekatan ini dan sukar dipisahkan dengan penelitian kualitatif.
5.      Etnografi; Pendekatan ini dalam penelitian kualitatif terbanyak berasal dari bidang antropologi, karena yang diteliti adalah budaya. Semula gagasan budaya masih terikat gagasan etnis dan geografis, tetapi sekarang diperluas dengan memasukkan organisasi.
6.      Penelitian lapangan; Penelitian lapangan dapat juga dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif atau sebagai metode mengumpulkan data kualitatif. Pendekatan ini terkait erat dengan observasi.
7.      Grounded Theory; Grounded Theory adalah pendekatan penelitian kualitatif yang mulanya dikembangkan oleh Glaser dan Strauss pada tahun 1960-an. Maksud pokok dari grounded theory, menurut Moleong, adalah untuk mengebangkan teori tentang minat terhadap fenomena.[18]
Demikian berbagai landasan teori atau pijakan penelitian kualitatif. Dari berbagai aliran tersebut yang paling dominasi adalah fenomenologi, sedangkan yang lainnya adalah tambahan atau sekunder.

D.     Paradigma Penelitian Kualitatif
Harmon sebagaimana yang dikutip Moleong, mendefinisikan paradigma sebagai cara mendasar untuk mempersepsi, berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang visi realitas.[19] Sementara itu Capra, sebagaimana yang dikutip Moleong juga, mendefinisikan paradigma sebagai konstelasi konsep, nilai-nilai persepsi dan praktek yang dialami bersama oleh masyarakat, yang membentuk visi khusus tentang realitas sebagai dasar tentang cara mengorganisasikan dirinya.[20]
Dari definisi tersebut, penulis mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud paradigma adalah konstelasi yang tidak tertulis yang dialami oleh masyarakat yang membentuk visi khusus tentang realitas.
Ada bermacam-macam paradigma, namun yang mendominasi ilmu pengetahuan adalah paradigma ilmiah dan paradigma alamiah. Paradigma ilmiah bersumber dari pandangan positivisme sedangkan paradigma alamiah bersumber pada pandangan fenomenologis. Dari kedua paradigma di atas, penelitian kualitatif mempunyai paradigma alamiah atau (naturalistic paradigm).
E.     Fokus Penelitian dalam Penelitian Kualitatif
Suatu kegiatan penelitian dilakukan karena adanya suatu masalah. Demikian pula penelitian kualitatif dilakukan karena persepsi seseorang terhadap adanya suatu masalah bukan dengan blank atau sesuatu yang kosong. Moleong mencatat, terdapat tiga macam masalah, yaitu masalah untuk peneliti, evaluans untuk evaluator dan pilihan kebijaksanaan untuk peneliti kebijaksanaan.[21] Pada dasarnya penentuan masalah bergantung terhadap paradigma yang dianut seorang peneliti.
Masalah merupakan sesuatu yang dibawa peneliti atau persepsi peneliti terhadap subjek penelitian. Namun peneliti harus merubah masalah atau ganti judul, ketika peneliti datang ke lapangan dengan membawa judul penelitian, setelah peneliti memasuki lapangan penelitian dan menemukan fenomena yang berbeda atau perkembangan fenomena. Jadi masalah dalam penelitian kualitatif bersifat fleksibel.
Masalah dalam penelitian kualitatif biasa ditulis dalam bentuk fokus penelitian. Tanzeh dan Suyitno menyatakan bahwa umumnya fokus penelitian diformulasikan dalam kalimat tanya yang jelas formatnya, singkat, tajam dan tidak mempunyai makna yang bias, namun kadang-kadang juga berbentuk kalimat pernyataan yang keduanya juga tidak menutup kemungkinan untuk disempurnakan setelah penulis terjun ke lapangan.[22]
Pembatasan masalah merupakan tahap yang sangat menentukan dalam penelitian kualitatif walaupun sifatnya masih tentatif. Menurut Moleong, hal tersebut berarti bahwa:
1.      Suatu penelitian tidak dimulai dari sesuatu yang vakum atau kosong. Implikasinya, peneliti seyogyanya membatasi masalah studinya yang bertumpu pada fokus. Hal ini yang memungkinkan adanya acuan teori dari suatu penelitian.
2.      Fokus pada dasarnya adalah masalah pokok yang bersumber dari pengalaman peneliti atau melalui pengetahuan yang diperolehnya melalui kepustakaan ilmiah ataupun kepustakaan lainnya. Implikasinya, apabila peneliti merasakan adanya masalah, seyogyanya ia mendalami kepustakaan yang relevan sebelum terjun ke lapangan. Dengan jalan demikian fokus penelitian akan memenuhi kriteria untuk bidang inkuiri yaitu kriteria inklusi-eksklusi. Implikasi yang lain ialah peneliti harus memanfaatkan paradigma. Dengan fokus, peneliti akan tahu persis data yang perlu dikumpulkan dan yang tidak perlu dikumpulkan.
3.      Tujuan penelitian pada dasarnya adalah memecahkan masalah yang telah dirumuskan. Implikasinya, masalah perlu dirumuskan terlebih dahulu, barulah tujuan penelitian ditetapkan, bukan sebaliknya.
4.      Masalah yang bertumpu pada fokus yang ditetapkan bersifat tentatif, dapat diubah sesuai dengan situasi latar penelitian. Implikasinya, peneliti tidak perlu kecewa jika masalah atau fokusnya berubah. Dengan kata lain, peneliti hendaknya membiasakan diri untuk menghadapi perubahan dalam masalah penelitian. Jika perubahannya cukup besar dan memerlukan orientasi baru dalam dasar pemikiran, maka peneliti perlu mendalami kembali kepustakaan yang relevan dengan masalah baru itu.[23]
Sementara itu Spradley dalam Sanapsiah Faisal sebagaimana yang dikutip Sugiyono, mengemukakan empat alternatif untuk menetapkan fokus, yaitu:
1.      Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan informan.
2.      Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu organizin domain.
3.      Menetapkan fokus yang memiliki temuan untuk pengembangan IPTEK.
4.      Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dengan teori-teori yang telah ada. [24]
Jadi pada intinya, peneliti datang ke lapangan dengan membawa fokus penelitian yang berupa persepsi masalah yang ada pada lapangan, namun masalah atau fokus tersebut bisa berubah ketika fenomena di lapangan tidak sama dengan masalah yang dibawa.

F.      Model Penelitian Kualitatif
Setelah mempelajari pengertian, paradigma, landasan dalam penelitian kualitatif, maka dalam subbab ini penulis akan mencoba mengemukakan model penelitian kualitatif. Menurut kesimpulan Muhajir, model kualitatif dapat dikelompokkan menjadi 4 model, yaitu model grounded research dari Glaser & Strauss, model ethnometodologi dari Bogdan, model paradigma naturalistik dari Guba & Lincoln, dan model interaksi simbolik dari Blumer.[25]
Model pertama banyak memberi sumbangan operasionalisasi kualitatif, terutama dalam upaya mencari dan merumuskan teori berdasar data empirik. Tetapi bagaimanapun pada akhirnya kembali juga pada kerangka pikir kuantitatif yang selalu berupaya mencari teori yang berlaku universal lewat pembuktian empirik. Glaser & Strauss akhirnya juga memberi peluang pengembangan teori substantif menjadi teori formal. Teori formal dibangun bukan berdasarkan suatu area substantif, melainkan dibangun dari banyak area substantif yang beragam.
Model kedua memang lebih banyak memberi sumbangan pada banyak konsep berpikir kualitatif, tetapi dalam banyak hal masih terpaku pada pemikiran kuantitatif, seperti masih menggunakan konsep validitas, reliabilitas, dan sebagainya.
Model ketiga, yaitu model paradigma naturalistik, adalah model yang hampir sepenuhnya berhasil termasuk juga menggunakan konsep-konsep model pertama dan kedua yang memang cocok untuk ciri kualitatif, dan layak serta representatif untuk mewakili metodologi penelitian kualitatif. Oleh karena itu, berfikir kualitatif yang paling konsekuen adalah berfikir menggunakan model paradigma naturalistik.
Model keempat, yaitu model interaksi simbolik yang pada akhir perjalanannya, yaitu K.Denzin, penerus interaksi simbolik telah menjurus kembali ke pemikiran kuantitatif-statistik-positivistik, misalnya dalam  membangun scientific concepts (setidaknya pada waktu Denzin menulis disertasinya). Dalam tugasnya menjadi editor Handbook of Qualitative Research, 1994, bersama Lincoln, konsep Denzin sukar dilacak, karena Denzin menulis bersama Lincoln, tetapi nampaknya dari tulisan terakhirnya, tahun 1991 dalam artikel Current Perpectives In Social Theory, Denzin mengarah ke dekonstruktionist.[26]
Demikian berbagai model penelitian kualitatif, menurut penulis yang paling tepat adalah penggunaan model Guba & Lincoln, walaupun tidak menutup kemungkinan menggunakan model yang lainnya karena kebutuhan.

G.     Tahap-Tahap Penelitian Kualitatif
Dalam penelitian kualitatif terdapat tahap-tahap tertentu yang harus dilalui oleh seorang peneliti dalam melakukan penelitian kualitatif. Tahap-tahap tersebut sebagaimana dijelaskan Hendrarso, adalah sebagai berikut:[27]
1.      Menetapkan fokus penelitian; Seorang peneliti harus menetapkan fokus penelitian terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian. Hal tersebut dilakukan agar penelitian yang dilakukan berada dalam satu koridor. Fokus penelitian dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan fenomena di lapangan.
2.      Menentukan setting dan subjek penelitian; Setting penelitian menunjukkan komunitas yang akan diteliti dan sekaligus kondisi fisik dan sosial mereka. Jadi setelah merumuskan fokus penelitian, peneliti harus menentukan setting dan subjek penelitian terlebih dahulu sebelum penelitian.
3.      Pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data; Penelitian kualitatif merupakan proses penelitian yang berkesinambungan sehingga tahap pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis data dilakukan secara bersamaan selama proses penelitian. Dalam penelitian kualitatif, pengolahan data tidak harus dilakukan setelah data terkumpul atau analisis data tidak mutlak dilakukan setelah pengolahan data selesai. Dalam hal ini, sementara data dikumpulkan, peneliti dapat mengolah dan melakukan analisis data secara bersamaan. Sebaliknya pada saat menganalisis data, peneliti dapat kembali ke lapangan untuk memperoleh tambahan data yang dianggap perlu dan mengolahnya.
4.      Penyajian data; Setelah tahapan di atas dilakukan, selanjutnya adalah menyajikan data. Prinsip dasar menyajikan data sama dengan menulis karya atau buku yaitu membagi pemahaman kita tentang sesuatu kepada orang lain.
Demikian tahapan yang harus dilalui oleh peneliti dalam penelitian kualitatif. Selamat meneliti dengan penelitian kualitatif dalam bidang pendidikan Islam yang konsentrasinya manajemen pendidikan Islam.


BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, motivasi dan lainnya, secara holistik atau utuh dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode penggalian data yang alamiah.
2.      Penelitian kualitatif mempunyai fungsi dan manfaat yang berbeda. Fungsinya pada intinya adalah untuk menemukan teori dan juga mengembangkan teori.
3.      Terdapat berbagai karakteristik yang membedakan dengan penelitian lainnya, juga landasan teoritis dalam penelitian kualitatif.
4.      Penelitian kualitatif mempunyai paradigma alamiah atau (naturalistic paradigm).
5.      Masalah dalam penelitian kualitatif biasa ditulis dalam bentuk fokus penelitian. Pada umumnya fokus penelitian diformulasikan dalam kalimat tanya yang jelas formatnya, singkat, tajam dan tidak mempunyai makna yang bias, namun kadang-kadang juga berbentuk kalimat pernyataan yang keduanya juga tidak menutup kemungkinan untuk disempurnakan setelah penulis terjun ke lapangan.
6.      Model kualitatif dapat dikelompokkan menjadi 4 model, yaitu model grounded research dari Glaser & Strauss, model ethnometodologi dari Bogdan, model paradigma naturalistik dari Guba & Lincoln, dan model interaksi simbolik dari Blumer.
7.      Dalam penelitian kualitatif terdapat tahap-tahap tertentu yang harus dilalui oleh seorang peneliti dalam melakukan penelitian kualitatif. Tahap tersebut antara lain, menentukan fokus penelitian, menentukan setting dan subjek penelitian, pengumpulan, pengolahan dan analisis data dan penyajian data.

B.     Kritik dan saran
inilah yang dapat penulis jelaskan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.


DAFTAR RUJUKAN


Bogdan, Robert C.,  Sari Knop Biklen, Qualitative Research For Education: an introduction to theory and methods ,London: Boston London, 1982.

Hendrarso, Emy Susanti, "Penelitian Kualitatif Sebuah Pengantar", dalam Bagong Suyanto dan Sutinah (ed), Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan, Jakarta: Kencana, 2007.

Moleong,Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.

Muhajir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi III, Yogyakarta: Raka Sarasin, 1996.

Mulyana, Dedy, Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003.

Sudjana, Nana, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2009.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B, Bandung: Alfabeta, 2008.

Tanzeh, Ahmad, Suyitno, Dasar-Dasar Penelitian, Surabaya: eLKAF, 2006.

Taylor, Steven J., Robert C Bogdan, Introduction to Qualitative Research Methods: The Search for Meaning, New York: Wiley and Sons Inc, 1984.



[1] Ahmad Tanzeh dan Suyitno, Dasar-Dasar Penelitian, (Surabaya: eLKAF, 2006), 110.
[2] Emy Susanti Hendrarso, "Penelitian Kualitatif Sebuah Pengantar", dalam Bagong Suyanto dan Sutinah (ed), Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan, (Jakarta: Kencana, 2007), 165.
[3] Lexy J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), 2.
[4] Robert C Bogdan dan Sari Knop Biklen, Qualitative Research For Education: an introduction to theory and methods ,(London: Boston London, 1982), 3. Lihat juga Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi III, (Yogyakarta: Raka Sarasin, 1996), 12. Dedy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), 149.
[5] Steven J. Taylor dan Robert C Bogdan, Introduction to Qualitative Research Methods: The Search for Meaning, (New York: Wiley and Sons Inc, 1984), 5. Lihat juga Hendrarso, "Penelitian Kualitatif…, 166.
[6] Tanzeh dan Suyitno, Dasar-Dasar …, 113.
[7] Moleong, Metodologi Penelitian…, 4.
[8] Ibid., 5
[9] Ibid.
[10] Ibid., 7.
[11] Nana Sudjana, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2009), 195.
[12] Lihat Bogdan dan Biklen, Qualitative Research…, 27-30.
[13] Ibid. Moleong, Metodologi Penelitian…,8-13. Sudjana, Penelitian dan Penilaian..., 197-200.
[14] Ibid. (Metodologi Penelitian), 14-15.
[15] Ibid., 19.
[16] Hendrarso, "Penelitian Kualitatif…, 167
[17] Moleong, Metodologi Penelitian…,24.
[18] Ibid., 26.
[19] Ibid., 49.
[20] Ibid.
[21] Moleong, Metodologi Penelitian…,93.
[22] Tanzeh dan Suyitno, Dasar-Dasar…, 123.
[23] Moleong, Metodologi Penelitian…,97-98.
[24] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B, (Bandung: Alfabeta, 2008), 209.
[25] Muhajir, Metodologi Penelitian…, 86.
[26] Ibid., 86-87.
[27] Hendrarso, "Penelitian Kualitatif…,170-173.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar